Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pembangunan infrastruktur Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Desa Wanam, Merauke, Papua Selatan, untuk mendukung terbentuknya pusat produksi pangan baru. Pembangunan jaringan irigasi rawa, saluran primer dan sekunder, serta pengendalian banjir menjadi fondasi utama pengembangan kawasan tersebut.
Pemerintah menargetkan panen perdana padi pada awal hingga pertengahan November 2026, dengan potensi produksi sekitar 240 ton gabah dari lahan uji tanam seluas 40 hektare.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menjelaskan, pemerintah bertugas memastikan ketersediaan dan pengelolaan air agar kegiatan pertanian dapat berjalan berkelanjutan. Jaringan saluran air di KSPEAN Wanam dirancang sepanjang 180 kilometer untuk mengairi seluruh kawasan, dan hingga 1 Oktober 2026 telah terealisasi sepanjang 133 kilometer. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dari strategi meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan potensi wilayah Papua.
Infrastruktur Air Menjadi Fondasi Produksi Pangan
Sebagaimana disadur dari Berita Ekonomi Bisnis, dan Investasi Hari Ini, Dody menyebut ketersediaan air pada tahap awal telah mendukung pengembangan lahan seluas 130 hektare. Dari luasan tersebut, penanaman padi tahap pertama telah dilakukan pada sekitar 40 hektare. Pemerintah memperkirakan produktivitas minimal enam ton gabah per hektare, sehingga uji tanam dan panen perdana diproyeksikan menghasilkan sekitar 240 ton gabah.
Panen pertama itu dijadwalkan berlangsung paling lambat pada pertengahan November, dengan peluang terealisasi lebih awal apabila pertumbuhan tanaman dan kondisi lapangan mendukung. Tahap uji tersebut penting untuk mengukur kesesuaian teknologi budidaya, efektivitas jaringan air, serta produktivitas lahan sebelum pengembangan dilakukan dalam skala yang lebih besar.
Dalam penjelasannya, Dody juga menyebut adanya rencana perluasan pengairan hingga 110.000 hektare pada tahap berikutnya, sementara pengembangan KSPEAN Wanam berdasarkan amanat Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2025 mencakup kawasan seluas 10.000 hektare.
Model Pengembangan Kawasan Pangan Papua
KSPEAN Wanam memiliki karakteristik hidrotopografi yang beragam, mulai dari lahan kering, semi-basah, hingga rawa. Kondisi tersebut menuntut perencanaan infrastruktur yang terukur agar distribusi air dapat disesuaikan dengan kebutuhan tiap hamparan dan risiko genangan dapat dikendalikan. Selain menunjang sawah, sistem saluran dan pengendalian banjir juga diharapkan memperkuat akses pengelolaan lahan serta mengurangi hambatan teknis dalam kegiatan produksi pertanian.
Pengembangan Wanam merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk membangun lumbung pangan baru di wilayah yang dinilai memiliki potensi alam besar dan relatif lebih mampu menghadapi gangguan cuaca ekstrem dibandingkan sejumlah kawasan lain. Dengan dukungan infrastruktur, kawasan ini berpeluang meningkatkan pasokan pangan, membuka kebutuhan tenaga kerja pada sektor pertanian dan konstruksi, serta mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi pendukung, seperti pengolahan hasil panen, transportasi, penyediaan sarana produksi, dan jasa pemeliharaan irigasi.
Pemerintah menjadikan Wanam sebagai proyek percontohan sebelum mengembangkan kawasan serupa di wilayah lain, termasuk Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Keberhasilan tahap awal akan ditentukan oleh konsistensi penyelesaian jaringan air, ketepatan tata kelola lahan, pendampingan kepada pelaku usaha tani, serta kepastian rantai pasok dari produksi hingga pemasaran.
Jika aspek-aspek tersebut berjalan terpadu, KSPEAN Wanam dapat memperkuat kemandirian pangan Papua Selatan sekaligus memberi kontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional.


