Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, berkembang menjadi pusat perdagangan, interaksi sosial, dan kunjungan wisata di perbatasan Indonesia-Papua Niugini. Setiap pekan, pedagang dari kampung sekitar menjajakan sayur, buah, umbi-umbian, pinang, sirih, serta komoditas lokal kepada warga Papua Niugini yang datang berbelanja.
Kawasan yang berjarak sekitar 60 kilometer dari pusat Kota Jayapura itu kini tidak hanya berfungsi sebagai pintu perlintasan, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat perbatasan.
Pasar mingguan di PLBN Skouw berlangsung ketika pos perbatasan beroperasi pada pukul 08.00-16.00 WIT. Warga dari kampung Wutung, wilayah administratif Kota Vanimo, Provinsi Sandaun, Papua Niugini, biasanya mulai berdatangan sekitar pukul 09.00 WIT. Jarak Kampung Wutung yang kurang dari satu kilometer dari pos membuat pasar tersebut menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dibandingkan perjalanan ke Vanimo yang berjarak sekitar 45 kilometer.
Perdagangan Lintas Batas Menguatkan Penghidupan Warga
Berdasarkan informasi yang disadur dari Kompas.id, para pedagang lokal berasal dari sejumlah kampung di sekitar PLBN, antara lain Mosso, Skouw Sae, Skouw Yambe, dan Skouw Mabo. Mereka menjual hasil kebun serta pangan lokal secara langsung kepada pembeli dari negara tetangga.
Transaksi berlangsung menggunakan kina, mata uang Papua Niugini, dengan nilai sekitar Rp 4.000 untuk setiap satu kina berdasarkan kurs yang disebutkan dalam pemberitaan tersebut. Proses tawar-menawar kerap dilakukan menggunakan bahasa Pidgin atau bahasa Inggris sehari-hari yang dipahami warga Papua Niugini.
Selain komoditas hasil kebun, perabotan rumah tangga dan bahan kebutuhan pokok kemasan menjadi barang yang banyak dicari. Produk tersebut sebagian besar dipasarkan oleh pedagang dari pusat Kota Jayapura, termasuk pelaku usaha asal Jawa dan Sulawesi yang membuka usaha di sekitar PLBN.
Rahmad, pedagang asal Buton, Sulawesi Tenggara, menyebut pembeli dari Papua Niugini dapat berbelanja senilai Rp 1 juta hingga Rp 2 juta dalam sekali kunjungan, terutama untuk barang yang kemudian dijual kembali di kampung mereka.
Aktivitas perdagangan itu memberi manfaat bagi berbagai kelompok usaha, mulai dari petani dan pedagang pangan lokal hingga penyedia jasa transportasi. Dalam sehari, sekitar 1.000-2.000 warga Papua Niugini disebut melintas menuju wilayah Papua Indonesia, meskipun sebagian besar saat ini hanya dapat berbelanja di kawasan pasar karena keterbatasan dokumen perlintasan dan sumber daya di pos perbatasan.
Warga dari kedua sisi juga memiliki hubungan kekerabatan yang telah berlangsung turun-temurun, sehingga kegiatan jual beli sekaligus menjadi ruang untuk menjaga hubungan sosial di antara masyarakat Skouw dan Wutung.
Muara Tami Diproyeksikan Menjadi Kawasan Pertumbuhan Baru
Pemerintah Kota Jayapura menempatkan Distrik Muara Tami, termasuk kawasan PLBN Skouw, sebagai salah satu wilayah masa depan kota. Arah pembangunan berupa penempatan kantor instansi, pengembangan permukiman, dan penguatan sentra pertanian mulai berpusat di kawasan tersebut. Perkembangan ini diharapkan memperluas manfaat pembangunan hingga masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan, sekaligus menciptakan lapangan usaha baru yang berbasis potensi lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura Matias Mano menyampaikan bahwa potensi budaya, flora, dan fauna di kawasan perbatasan dapat dikembangkan secara terpadu oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota. Perpaduan seni, tari, nyanyian, serta produk kerajinan dari masyarakat di kedua negara juga berpeluang menjadi daya tarik wisata dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila dikelola secara berkelanjutan.
Penguatan kapasitas pelaku usaha lokal, promosi produk, serta penyediaan fasilitas pasar menjadi bagian penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh pedagang dari luar kawasan.
Pengembangan wisata perbatasan turut terlihat dari kedatangan pengunjung luar daerah yang ingin menyaksikan langsung aktivitas perdagangan lintas negara. Wisatawan dapat melihat gedung PLBN, interaksi warga, serta transaksi menggunakan bahasa dan mata uang berbeda.
Pada akhir tahun sebelumnya, otoritas kedua negara juga berkolaborasi menggelar festival dan pameran selama tiga hari yang menampilkan seni budaya serta produk usaha mikro, kecil, dan menengah dari kedua negara. Kegiatan tersebut kembali dilaksanakan setelah beberapa tahun vakum dan menjadi sarana promosi sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, peningkatan frekuensi pasar menjadi salah satu harapan pedagang dan masyarakat agar transaksi serta pertemuan dengan kerabat dari Papua Niugini dapat berlangsung lebih sering. Pemerintah Indonesia menyatakan terbuka terhadap kemungkinan pengembangan kegiatan apabila berbagai kendala perlintasan di pihak Papua Niugini dapat diselesaikan.
Dengan perencanaan yang memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, penguatan infrastruktur, agenda budaya, dan pengelolaan potensi wisata, PLBN Skouw berpeluang tumbuh sebagai simpul ekonomi perbatasan yang memperkuat kesejahteraan warga sekaligus menjaga hubungan baik kedua negara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/21/684a4aec-b71a-4ead-bf66-25a1944fd397_jpeg.jpeg)

