Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, mendorong pemuda lokal di wilayah pesisir dan pegunungan Mimika untuk terlibat langsung dalam pengembangan ekonomi kampung. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat pengelolaan potensi pertanian dan perikanan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Pemuda dari Suku Amungme dan Suku Kamoro diproyeksikan tumbuh sebagai pengusaha lokal yang mampu menghubungkan hasil produksi kampung dengan pasar di Kota Timika.
Program tersebut dirancang tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga dengan penyediaan fasilitas, akses usaha, pendampingan, dan pemantauan berkelanjutan. YPMAK menyiapkan tempat di wilayah perkotaan yang dapat menampung sekaligus mendistribusikan hasil pertanian dan perikanan dari kampung-kampung di Mimika. Dengan skema itu, hasil produksi masyarakat diharapkan memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas dan dapat memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha lokal.
Membangun Kader Pengusaha dari Kampung
Leonardus mengatakan, kaderisasi pemuda masyarakat lokal diperlukan agar sektor ekonomi di wilayah pesisir dan pegunungan dapat dikendalikan oleh sumber daya manusia setempat. Para pemuda yang disiapkan akan berperan sebagai pengusaha sekaligus penampung hasil pertanian dan perikanan masyarakat sebelum memasarkannya ke Kota Timika.
Sebagaimana disadur dari ANTARA News Papua Tengah, pendekatan tersebut menempatkan pemuda sebagai pelaksana utama, sedangkan YPMAK berperan menyiapkan fasilitas, membuka akses, serta memberikan pendampingan.
YPMAK saat ini telah membina 20 pengusaha baru dari Suku Amungme dan Suku Kamoro yang bergerak di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Dari jumlah tersebut, lima orang disebut telah berhasil mengembangkan usahanya, sementara peserta lain masih memperoleh pendampingan agar mampu memperbaiki pengelolaan bisnis dan meningkatkan keberlanjutan usaha.
Selain itu, YPMAK telah meluncurkan usaha binatu atau laundry yang dijalankan oleh pemuda lokal Papua sebagai salah satu contoh pengembangan kegiatan ekonomi berbasis keterampilan dan kebutuhan pasar.
Menyiapkan Rantai Nilai Kopi dan VCO
Pengembangan usaha ke depan akan diarahkan pada komoditas yang sesuai dengan karakter wilayah. Pada 2027, YPMAK mendorong pemuda di kawasan pegunungan untuk mengembangkan usaha kopi, sedangkan pemuda di wilayah pesisir diarahkan mengembangkan minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO). Pilihan tersebut diharapkan membuka peluang pengolahan produk lokal, sehingga masyarakat tidak hanya menjual hasil mentah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari proses produksi dan pemasaran.
Untuk merealisasikan rencana itu, YPMAK sedang menyiapkan skema serta pendekatan yang mencakup seluruh alur usaha, mulai dari petani hingga lokasi distribusi. Perangkat pelaksanaan yang disusun akan mengatur pihak yang mengelola, mekanisme penampungan, serta tujuan pemasaran produk. Perencanaan rantai pasok ini penting agar pengembangan kopi dan VCO tidak berhenti pada tahap produksi, melainkan memiliki kepastian pengelolaan dan akses pasar.
Program pemberdayaan tersebut diarahkan untuk membentuk kemandirian ekonomi pemuda dan memperkuat posisi masyarakat lokal dalam kegiatan usaha di Mimika. Tujuan utamanya ialah agar pemuda Amungme dan Kamoro mampu tumbuh sebagai pengusaha, memahami tata kelola bisnis, serta menguasai akses pasar di dalam maupun di luar Mimika.
Dengan dukungan fasilitas, pembinaan, dan pendampingan yang konsisten, potensi pertanian serta perikanan kampung dapat berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang dikelola lebih terarah oleh masyarakat setempat.


