Peneliti Noken Ekologi Papua Institute sekaligus akademisi Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai, Titus Pekei, mengusulkan pembangunan museum noken di setiap kabupaten, kota, dan provinsi di Tanah Papua. Gagasan tersebut dinilai penting untuk menjaga pengetahuan tradisional, sejarah, keterampilan, serta identitas budaya masyarakat adat yang diwariskan lintas generasi.
Museum itu diharapkan tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda budaya, tetapi berkembang sebagai pusat pendidikan, penelitian, dokumentasi, dan penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Noken telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda yang memerlukan pelindungan mendesak pada 4 Desember 2012. Pengakuan tersebut menegaskan nilai penting noken sekaligus memperkuat tanggung jawab masyarakat dan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan tradisinya.
Berdasarkan informasi yang disadur dari Suara Papua, Titus menyampaikan usulan tersebut pada 14 Oktober 2026 dengan menekankan bahwa noken tidak dapat dipahami hanya sebagai tas tradisional, melainkan sebagai wujud pengetahuan leluhur, kearifan lokal, hubungan sosial, dan keterikatan masyarakat dengan lingkungan alam.
Museum sebagai Pusat Pengetahuan Budaya
Menurut Titus, setiap komunitas adat di Papua memiliki sejarah, bahasa, pengalaman, teknik, dan makna budaya yang berbeda. Karena itu, museum noken di tiap daerah tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan tradisi, melainkan memberikan ruang bagi setiap komunitas untuk mendokumentasikan dan memperkenalkan kekhasannya berdasarkan penjelasan masyarakat pemilik tradisi.
Koleksi museum dapat memuat informasi mengenai asal daerah, bahan baku, proses pembuatan, fungsi, istilah lokal, sejarah lisan, serta nilai sosial dan spiritual yang melekat pada noken.
Pengelolaan museum perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat adat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Inventarisasi koleksi, dokumentasi foto dan video, rekaman cerita lisan, serta arsip digital harus dilaksanakan dengan menghormati hak masyarakat atas pengetahuan budaya mereka. Informasi yang bersifat sakral atau terbatas tidak dapat disebarluaskan tanpa persetujuan komunitas pemiliknya. Prinsip tersebut penting agar upaya pelestarian tidak berubah menjadi pengambilan benda dan pengetahuan secara sepihak.
Pendidikan, Perajin, dan Keberlanjutan Ekonomi
Titus juga menempatkan perajin sebagai pelaku utama keberlanjutan tradisi noken. Pengetahuan tentang pemilihan bahan, pengolahan serat, teknik pembuatan, dan pemanfaatan noken selama ini diwariskan melalui praktik langsung dalam komunitas.
Museum dapat melibatkan perajin sebagai narasumber, pengajar, pendamping kegiatan, dan pengelola program, antara lain melalui demonstrasi pembuatan, lokakarya bagi pelajar, pameran karya, serta dokumentasi sejarah lisan. Keterlibatan tersebut perlu disertai penghargaan yang layak terhadap waktu, keterampilan, dan pengetahuan mereka.
Dari sisi pendidikan, museum dapat menjadi ruang belajar bagi anak-anak, pelajar, peneliti, dan masyarakat umum untuk memahami noken secara utuh. Program kunjungan sekolah, penelitian sejarah lokal, pelatihan keterampilan, lomba penulisan budaya, dan penyusunan bahan ajar dapat memperkuat pewarisan pengetahuan kepada generasi muda.
Apabila karya perajin dipasarkan melalui kegiatan museum, tata kelola manfaat dan pembagian pendapatan juga perlu dilakukan secara adil serta transparan. Dengan demikian, museum dapat mendukung pelestarian sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi kreatif masyarakat tanpa menghilangkan nilai budaya noken.
Pelestarian noken juga berkaitan erat dengan keberlanjutan lingkungan karena bahan pembuatannya bersumber dari alam. Museum dapat mendokumentasikan jenis tumbuhan, teknik pengolahan, serta pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab. Data tersebut dapat menjadi dasar kerja sama antara komunitas adat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian untuk menjaga ketersediaan bahan baku.
Jika diperlukan, upaya pelestarian dapat dikembangkan melalui pemulihan lingkungan dan pengelolaan sumber daya yang selaras dengan pengetahuan masyarakat setempat.
Tahapan Pembangunan dan Jaringan Antarmuseum
Titus menilai pendirian museum perlu dilakukan secara bertahap sesuai kondisi geografis, kemampuan pendanaan, kesiapan kelembagaan, dan kebutuhan setiap daerah. Daerah yang belum memiliki fasilitas memadai dapat memulainya melalui ruang dokumentasi, galeri budaya, atau pusat pembelajaran noken berbasis komunitas.
Tahap berikutnya mencakup penyusunan kelembagaan, inventarisasi koleksi, pelatihan pengelola, pemeliharaan benda budaya, serta pembangunan program pendidikan jangka panjang. Pemerintah daerah juga perlu memastikan pembiayaan berkelanjutan dan mekanisme evaluasi yang mengukur manfaat museum bagi masyarakat pemilik tradisi.
Dalam jangka panjang, museum-museum tersebut dapat membentuk jaringan kerja sama untuk pertukaran pengetahuan, pameran bersama, penelitian, pelatihan pengelola, dan pengembangan katalog digital. Jaringan itu akan memperkenalkan keragaman noken Papua kepada masyarakat Indonesia dan dunia, sekaligus memungkinkan setiap daerah mempertahankan identitasnya masing-masing.
Sebagaimana disadur dari Suara Papua, Titus menegaskan bahwa keberhasilan museum tidak semata-mata diukur dari besarnya bangunan atau jumlah koleksi, melainkan dari kemampuannya menjaga pengetahuan, menghargai perajin, memperkuat pendidikan budaya, dan memastikan tradisi noken tetap hidup di tengah masyarakat.
