Selama sekitar 40 tahun, Andre Liem mengembangkan peran sebagai pramuwisata yang memperkenalkan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat Papua kepada wisatawan mancanegara. Sejak 1986, ia mengantar tamu ke sejumlah wilayah, antara lain Wamena, Asmat, dan Korowai, dengan membangun hubungan langsung bersama masyarakat adat.
Aktivitas tersebut tidak hanya membuka akses pengenalan Papua kepada dunia luar, tetapi juga memberi peluang ekonomi bagi komunitas lokal melalui kunjungan wisata berbasis budaya dan lingkungan.
Andre, 63 tahun, lahir dan besar di Abepura, Kota Jayapura. Meskipun keluarganya memiliki leluhur dari Maluku Utara, tiga generasi keluarganya telah menetap di Jayapura sehingga ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan alam dan masyarakat setempat. Rumahnya menyimpan berbagai ornamen Papua, dokumentasi perjalanan, serta ukiran Asmat pemberian keluarga angkatnya di Kampung Biwar Laut, Distrik Betcbamu, setelah ia diangkat menjadi anak melalui ritual adat.
Pengalaman Lapangan Menjadi Modal Pengembangan Wisata
Ketertarikan Andre terhadap alam telah tumbuh sejak masa sekolah. Ketika duduk di kelas XI SMA Negeri Jayapura, ia bersama rekannya meraih peringkat ketiga dalam lomba karya ilmiah tingkat nasional pada 1981. Prestasi itu membawanya memperoleh beasiswa untuk berkuliah di Institut Pertanian Bogor pada 1982, meskipun dua tahun kemudian ia kembali ke Jayapura dan memilih melanjutkan pengabdiannya melalui kegiatan wisata serta interaksi langsung dengan masyarakat.
Sepulang dari Bogor, Andre mulai bergabung dengan pegiat wisata di sekitar Bandar Udara Sentani. Ia belajar bahasa Inggris secara otodidak dan merintis layanan bernama Papua Travel Guide dengan mengandalkan referensi budaya, pengetahuan lapangan, serta komunikasi dengan warga.
Wamena menjadi salah satu tujuan utama wisatawan asing pada masa itu karena daya tarik Lembah Baliem, rumah honai, tradisi masyarakat, dan lanskap pegunungannya. Sejak 1993, rute Wamena-Asmat semakin dikembangkan dengan memperkenalkan seni ukir Bisj atau Mbis serta tradisi masyarakat Korowai.
Sebagaimana disadur dari Kompas.id, perjalanan wisata yang dijalankan Andre umumnya berlangsung selama tujuh hingga 10 hari sehingga wisatawan memiliki kesempatan berinteraksi lebih mendalam dengan masyarakat adat. Kunjungan tersebut disesuaikan dengan jadwal upacara atau pesta adat dan tidak direkayasa untuk kepentingan pertunjukan. Pola ini membantu memperluas penghargaan terhadap kebudayaan setempat sekaligus memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari layanan pemanduan, akomodasi, kerajinan, dan kegiatan berbasis komunitas.
Wisata, Pendidikan, dan Kepedulian Lingkungan
Hubungan panjang dengan masyarakat adat juga membuat Andre memahami tantangan sosial yang dihadapi warga pedalaman, termasuk persoalan kesehatan. Pengalaman itu turut mendorong hadirnya program Asia Volunteer Association for Indigenous Health Issues pada 1996, organisasi nirlaba asal Kochi, Jepang, yang menyalurkan kegiatan kesehatan di sejumlah wilayah masyarakat adat, seperti Wamena, Yalimo, dan Mappi.
Bagi Andre, pengalaman wisata dapat menjadi jembatan untuk mengenali kebutuhan masyarakat sekaligus mempertemukan komunitas lokal dengan jejaring dukungan dari luar Papua.
Upaya memperluas manfaat pengetahuan tersebut dilanjutkan melalui program Tourism Goes to School pada 2008. Bersama pramuwisata lain, Andre bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Jayapura untuk mengenalkan potensi Danau Sentani, Pegunungan Cycloop, kerajinan, kebudayaan, serta keterampilan dasar menjadi pemandu wisata kepada pelajar.
Program itu menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari pengembangan pariwisata karena generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memiliki kesempatan memahami dan mengelola potensi daerahnya.
Perhatian Andre terhadap keberlanjutan lingkungan diwujudkan melalui keterlibatannya dalam pendirian Forum Peduli Port Numbay Green pada 2010. Bersama aktivis lingkungan, forum tersebut menanam ribuan bibit mangrove di kawasan Teluk Youtefa dan mengajak warga membersihkan pantai. Sebagian kegiatan memang menghadapi kendala dan tidak berlanjut, tetapi pengalaman tersebut meninggalkan praktik kolaborasi yang penting bagi penguatan kesadaran ekologis di Jayapura.
Sejak 2024, Andre mengurangi kegiatan sebagai pramuwisata untuk merawat ibunya yang berusia 91 tahun di Abepura. Ia tetap menerima diskusi dan konsultasi dari pegiat budaya, lingkungan, serta ekowisata dan sesekali terlibat langsung dalam kegiatan mereka.
Andre juga mengakui kondisi keamanan di sejumlah kawasan, termasuk Lembah Baliem dan Korowai, memengaruhi aktivitas wisata serta masyarakat yang bergantung padanya. Namun, ia melihat kesinambungan gerakan itu melalui generasi Papua seperti Nicky Mehue, Charles Toto, dan Billy Tokoro yang terus mengembangkan ekowisata dan etnowisata.
Warisan terpenting dari empat dekade perjalanan Andre bukan hanya dokumentasi tentang Papua, melainkan jejaring pengetahuan, kemitraan, dan kepercayaan yang dapat menjadi dasar pengelolaan wisata secara lebih bertanggung jawab.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/10/05/ed6fbd89-411b-4dce-98ac-185d1e4096c6_jpeg.jpg)