Aktivitas perdagangan di Pasar Youtefa, Kota Jayapura, Papua, memperlihatkan hubungan yang saling menopang antara pedagang orang asli Papua dan pedagang pendatang. Di tengah tantangan pendapatan dan keterbatasan akses usaha, para pedagang tetap berbagi informasi, menjaga hubungan dagang, serta saling membantu memasarkan sayuran, buah lokal, pinang, sirih, dan kerajinan khas Papua. Pola interaksi tersebut turut mengurangi stigma persaingan dan memperkuat hubungan sosial dalam kegiatan ekonomi sehari-hari.
Salah satu pedagang, Agustina Demetow atau Mama Tina, 59 tahun, datang dari Kampung Lereh, Distrik Kaureh, Kabupaten Jayapura. Ia membutuhkan waktu sekitar delapan jam menggunakan bus Damri untuk mencapai Pasar Youtefa sehingga memilih menyewa kamar indekos di sekitar pasar ketika berjualan.
Biasanya, ia berdagang selama dua hingga tiga hari sebelum pulang untuk mengambil kembali sayuran dan komoditas lain, sementara penghasilannya juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta mendukung pendidikan anaknya di Kota Jayapura.
Rantai Pasok Lokal dan Kerja Sama Pedagang
Sebagaimana disadur dari Kompas.id, Mama Tina tidak hanya menjual pinang, tetapi juga membantu pedagang lain memilih kualitas buah yang layak dikonsumsi. Pedagang non-Papua kerap memesan pinang kepadanya karena memahami perbedaan kualitas komoditas tersebut. Praktik sederhana ini menunjukkan adanya pembagian pengetahuan dan kepercayaan dalam rantai perdagangan pasar, sekaligus memberikan nilai tambah bagi produk lokal yang dibawa langsung dari kampung.
Wenina Mandikmbo atau Mama Wen, 42 tahun, mengalami pola perjalanan serupa. Perempuan asal Wamena, Papua Pegunungan, yang kini menetap di Distrik Arso, Kabupaten Keerom, itu menempuh perjalanan sekitar dua hingga tiga jam menuju Pasar Youtefa.
Dalam satu perjalanan, ia membawa sayuran dalam jumlah besar untuk dijual sendiri sekaligus didistribusikan kepada pedagang lain di dalam maupun di luar pasar. Ia memilih menjual dengan harga lebih rendah daripada menahan barang hingga rusak, sebuah keputusan yang membantu menjaga perputaran pasokan dan mengurangi kerugian.
Mendorong Perbaikan Ekonomi Orang Asli Papua
Di tengah kondisi perdagangan yang belum banyak berkembang, solidaritas menjadi modal sosial penting bagi para pedagang. Mama Wen menyebut hasil berdagang selama ini terutama digunakan untuk makan dan menyisihkan uang bagi sekolah anak.
Egana Pagawa, 26 tahun, juga meneruskan usaha orangtuanya di pasar sejak hampir satu dekade lalu setelah menempuh pendidikan hingga sekolah menengah pertama. Selain berdagang, ia memperoleh tambahan penghasilan dengan menganyam aksesori khas Papua, termasuk noken, melalui skema pemesanan dan penyediaan modal untuk membeli benang.
Pedagang pendatang pun mengakui keterbukaan dan kepedulian yang ditunjukkan pedagang asli Papua. Ratna, pedagang asal Sulawesi Selatan yang telah menetap di Jayapura sejak 1980-an, menilai semua pedagang sama-sama berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Menurut dia, hubungan yang terjalin di pasar menunjukkan bahwa pedagang asli Papua dan pendatang saling membutuhkan. Karena itu, penguatan kesejahteraan pedagang kecil perlu ditempatkan sebagai agenda bersama, bukan semata-mata persoalan persaingan antarkelompok.
Pengamat pembangunan Papua, Avelinus, menilai kesenjangan hubungan sosial kerap berakar dari ketimpangan ekonomi. Pedagang orang asli Papua dinilai masih terjebak dalam sistem perdagangan subsisten, yakni berjualan sekadar untuk memenuhi kebutuhan harian tanpa cukup ruang untuk mengembangkan modal dan usaha.
Ia mendorong intervensi langsung berupa peningkatan akses permodalan, penguatan kapasitas usaha, perbaikan distribusi, serta pendampingan agar aktivitas perdagangan dapat bergerak menuju usaha yang lebih efisien dan produktif.
Pengelolaan dana otonomi khusus juga dinilai perlu diarahkan lebih nyata untuk memperbaiki ekonomi orang asli Papua, termasuk melalui beasiswa bagi anak-anak pedagang. Akses pendidikan dapat menjadi jembatan untuk memutus siklus ekonomi subsisten dan memperluas kesempatan kerja generasi berikutnya.
Perwakilan Papua di Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Alberth Yoku, menyatakan pemanfaatan dana otsus perlu dievaluasi dan dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni memperkuat pendidikan, kesehatan, serta perekonomian orang asli Papua melalui kolaborasi dengan lembaga adat dan keagamaan. Kebijakan yang tepat sasaran akan memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus menjaga solidaritas dan hubungan sosial yang telah tumbuh di Pasar Youtefa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/04/fbbfc790-4c36-4367-b094-e5cd06d12d21_jpeg.jpeg)